Ketika Kata-Kata Enggan Mengalir
Langit senja meredup, seakan ikut meredam hiruk-pikuk yang tak kasat mata dalam benakku. Aku duduk terpaku, menatap kosong ke arah layar yang hening, menunggu kata-kata mengalir seperti dulu. Namun, yang ada hanya detakan jantung yang menggema, napas yang terasa lebih berat dari biasanya, dan sepi yang tak menawarkan jawaban.
Aku ingin menuliskan semuanya; kegelisahan yang menumpuk, pertanyaan-pertanyaan yang menggantung tanpa jawaban, emosi yang berdesakan tanpa ruang untuk bersembunyi. Tapi jemariku kaku, pikiranku macet di persimpangan, tak tahu harus memilih jalan yang mana.
Dulu, menulis adalah caraku berlari, melepaskan beban tanpa perlu benar-benar berbicara. Setiap kata yang terukir menjadi jembatan antara hati dan dunia, antara sunyi dan pemahaman. Namun kini, aku seperti kehilangan kunci dari ruang itu, tak tahu bagaimana membuka pintu yang dulu selalu ramah menyambutku.
Aku mengembuskan napas, menutup mata sejenak, lalu membiarkan diriku tenggelam dalam degup yang masih bersahutan di dada. Mungkin, jawabannya bukan memaksa kata-kata keluar, tapi menunggu mereka datang dengan sendirinya; seperti ombak yang selalu tahu kapan harus kembali ke pantai.
Comments
Post a Comment