Letting Go, Holding On, and Everything In Between

"Apa cita-cita kamu yang belum terwujud?"

Sebuah pertanyaan sederhana yang bisa muncul di sela makan siang atau obrolan larut malam. Namun, seperti banyak hal yang tampak ringan, kadang jawabannya punya kedalaman yang diam-diam menyentuh dasar hati kita.

"Yang sudah diikhlaskan atau masih diusahakan?"

"Keduanya."

Hari itu, obrolan melayang ke masa lalu dan masa depan. Tentang mimpi. Bukan yang ambisius atau penuh strategi. Tapi mimpi yang personal, yang dulu terasa begitu dekat, dan sekarang perlahan menjauh atau tinggal jadi cerita.

"Yang sudah diikhlaskan itu... main basket lagi di panggung besar. Sebenernya masih bisa, tapi waktunya ngga pernah tepat."

Ada keheningan sesaat. Kami sama-sama paham rasa itu —saat kamu tau kamu masih mampu, tapi waktu sudah melaju lebih dulu. Ketika kesempatan bukan lagi soal kemampuan, tapi soal konteks. Dan kamu harus memilih untuk meletakannya dengan tenang. Bukan karena menyerah, namun karena memilih berdamai.

"Kalau yang masih diusahakan?"

"Menerbangkan pesawat."

"Butuh lisensi ya?"

"Iya, bukan sekolah terbang biasa. Lisensi standar pun paling hanya bawa pesawat kecil. Tapi yang aku bayangkan... duduk di kokpit jet, dan tau, bahwa aku bisa bawa diriku sejauh itu."

Ada tawa kecil setelah itu, tapi bukan tawa mengejek. Justru tawa yang datang dari rasa kagum —bahwa di tengah hidup yang penuh tuntutan, masih ada ruang untuk mimpi yang liar, nyaris tak masuk akal, namun sungguh tulus.

Mungkin itu yang membuat percakapan ini begitu membekas. Karena di antara yang telah dilepaskan dan yang masih digenggam erat, ada benang merah: keberanian.

Keberanian untuk mengakui bahwa mimpi yang dulu pernah hidup, kini harus dilepas tanpa drama. Serta keberanian yang sama untuk tetap bermimpi, meski tau belum tentu semua bisa terwujud.

Karena hidup memang seperti itu. Kita tak pernah tau pasti ujungnya ke mana. Kadang justru saat kita melepas, sesuatu yang baru datang. Kadang saat kita masih menanti, justru yang lain tumbuh.

To let go is not to forget.

To keep dreaming is not to insist.

But both are ways to honor the self.

The one who dared to want more.

Comments