Temu yang Tak Bernama

Pertemuan tanpa rencana, tanpa kepastian apa yang seharusnya terjadi, setelah saling diam begitu lama.

"Apa kabar kamu?" tanyaku pelan.

"Masih sama. Lelah."

Aku menatapnya. Wajah yang dulu akrab dengan gelap bawah mata, senyum dipaksakan, dan bahu yang selalu terasa tegang.

"Lelahmu berbeda."

Dia menghela napas kecil, "Sepertinya sama saja."

Aku menggeleng, lembut, "Tidak. Look," ujarku sambil mengarahkan pandangan ke wajahnya. "No more eye bags. Ngga ada lagi kamu yang susah tidur, lalu bilang, 'ngga apa-apa kok.'"

Dia diam.

"I mean... you look better now."

—————

Dan saat aku berkata begitu, aku sadar. Bukan hanya dia yang kembali. Aku juga, diam-diam, mulai menemukan diriku yang dulu hilang.

"Terima kasih sudah selalu menemukanku kembali."

Ada beban di dada, berat dan sesak, yang selama ini hanya kupikul tanpa sadar.

Satu per satu luruh. 

Butuh waktu. Butuh jarak.

Sampai akhirnya semua tak lagi tajam, hanya samar, lalu larut ditelan waktu.

Namun kamu...

Dalam hati, aku bertanya, "Bagaimana kamu berharap bebanmu hilang, jika semua kamu pendam?"

Kamu mengeluarkan secarik luka, lalu mengira sudah cukup. Meneteskan satu emosi kecil, dan merasa itu bentuk lega.

Padahal tidak.

—————

Kini aku tidak meminta apa-apa. Tak mengulang tanya, "kita ini apa." Tak memaksa dunia untuk memberi definisi.

Kamu di sini. Aku juga.

Dan untuk saat ini, itu cukup.

Comments